Hari ini kita berpikir seks maka esok berpikir itu lagi. Setiap detik berpikir seks, kemudian kita melihat seks sebagai hal berharga dan menyenangkan. Mulailah kita mengikuti ketentuan menjaga dan melestarikan seks. Namun, pada suatu saat akan berjumpa dengan kenyataan bahwa bukan seksnya yang menjadi inti kebahagiaan, namun tujuan seks atau perkembangbiakan itulah yang menjadi inti kebahagiaan. Orang-orang yang tetap berpikir seks sebagai inti kebahagiaan akan menderita sejak masa kenyataan itu diperlihatkan terlebih lagi bahwa usia akan makin bertambah dan semua kecantikan maupun daya tarik fisik lainnya kian pudar, artinya semakin nyata bahwa seks itu bukanlah inti kebahagiaan.
Namun, sebagaimana kebiasaan merokok, jika hal ini tidak sempat dipelajari dan dibiasakan sejak awal, menerima kenyataan ini sangatlah panas. Menolak kebiasaan yang telah melekat memang berat. Tapi hal ini seharusnya dilakukan sebelum kejenuhan yang semakin terasa itu menelan semua identitas kita sebagai manusia yang bisa berpikir.
Apa yang terjadi ketika seks itu menjadi identitas kita atau boleh dikatakan menyatu dalam setiap aktivitas kita? Dan bagaimana kejadian berikutnya yang menjadikan kita menderita?
Ketika seks itu menjadi kesenangan utama dan nafsu seks memang teramat besar, setiap hal dapat terkait dengan seks. Semua imajinasi dan inspirasi terkait seks. Sentuhan walaupun cuma dengan telunjuk pun, akan terkait seks, apalagi harus berjabat tangan atau berpelukan. Kita akan mulai amat menghargai seks, namun dalam pemikiran kita yang tidak memiliki metode penyelesaian yang baik, kita mulai mengekang nafsu itu bagai memendam bara dalam sekam.
Karena seks itu adalah kesenangan utama, seberapa bara nafsu seks itu dapat dipendam? Suatu ketika, persentuhan akan terjadi dan memang persentuhan harus terjadi agar setiap orang memiliki jalan memperoleh kebahagiaan sejati.
Ketika kita bersaudara, berguru, berorang-tua atau berkeluarga / nikah, persentuhan harus terjadi sebagai tanda kasih sayang. Ketika pikiran kita seks saja, semua akan tampak sama, yaitu seks. Dengan cara ini, terjadilah feodilia, orang tua memperkosa anaknya sendiri, atau anak menggoda orang tuanya sendiri dan mungkin kejadian sebagaimana murid merasa dicintai ( sebagaimana pernikahan ) oleh gurunya atau sebaliknya.
Dalam kasus demikian, semua yang memendam bara seks akan terbakar oleh bara yang dipendamnya, sebab bara memang akan membakar tempatnya bermukim. Dia mulai melakukan hal-hal yang mengganggu orang lain dengan harapan bara itu dapat padam. Dalam kondisi begini, orang-orang yang mempunyai kepentingan menghancurkan atau memperbudak akan datang, menambahkan bahan bakar agar bara itu semakin membara bernyala-nyala.
Dalam kasus ‘perebutan kekuasaan’, dimana ada yang berkeinginan agar budak tetap ada, guru yang memberikan jalan kebebasan pemikiran adalah ancaman. Yang jelas, kebebasan pemikiran dan kebahagiaan yang merdeka akan menjadikan orang-orang bisa melihat dirinya diperbudak, selanjutnya akan bergerak menjatuhkan kekuasaannya sebagaimana gerakan orang-orang yang merasa diperbudak oleh presiden Suharto, terakhir meledak keras pada tahun 1998.
Harus diingat, bahwa perbudakan bertentangan dengan kemahakuasaan tuhan. Semakin hari bertambah, perbudakan akan semakin dapat dilihat semua orang dan ini akan menjadikan perbudakan itu mengalami abrasi perlahan.
Untuk saudara-saudaraku, carilah kesenangan yang selain dari seks, di sanalah jalan diri dapat keluar dari cengkeraman kandang perbudakan, menjadi jendela untuk dapat melihat diri secara keseluruhan dan menyadari apa yang seharusnya kita lakukan untuk diri dan lingkungan. Jangan sampai kita menjadi ikan yang bodoh, tertangkap tiada daya karena melahap umpan yang terlalu kita sukai. Kita tidak akan makan umpan jika ada makanan lain yang enak atau kita sudah kenyang.
==
Terkait kasus yang terjadi antara Anand Khrisna dan bekas muridnya. Bukan untuk menyalahkan penuduh atau tertuduh, tapi marilah kita belajar dari kasus ini untuk kebahagiaan kita semata. Kita bukan salah satu ayam yang hendak disabung sang bebotoh. tapi kita orang lain di luar ‘kandang’ yang harus bisa bahagia dengan cara yang lain selain berperang atau mengadu orang lain.
==
Salam bahagia
